Kembang api

Rabu, 27 Agustus 2014

Putu Gede Juni Antara

"Disiplin, patuh kepada pelatih, kerja keras, dan rajin berdoa"
Berdasarkan stastik di Piala AFF U-19 dan Pra Piala Asia U-19, nama Putu Gede Juni Antara berada diurutan teratas. Putu merupakan pemain yang paling sering diturunkan dengan total 930 menit, disusul kapten tim Evan Dimas Darmono (929 menit), penjaga gawang Ravi Murdianto (879 menit), penyerang sayap kiri Ilham Udin Armaiyn (845 menit), dan bek tengah Hanzamu Yama Pranata (840 menit).
Artinya, Putu memiliki fisik prima. Ia jarang digantikan kecuali cedera. Lalu apa rahasianya? Tidak sulit, Putu menyebut istirahatlah yang cukup. Disamping itu Putu memiliki tekad kuat untuk menjadi pesepak bola profesional.
Soal jam malam, ia membatasi dirinya sendiri. Paling malam, Putu tidur pukul 23.00 WIB. Itu pun hanya hari Sabtu atau malam Minggu. Bagi Putu, istirahat tidak kalah penting selain latihan ruti. Hal ini cukup sulit, mengingat anak lain seusianya pasti sedang gemar-gemarnya menghabiskan waktu saat akhir pekan Tapi ia memiliki kesungguhan hati untuk sukses.
"Selalu ingetin diri sendiri. Kalau mau sukses harus ada yang dikorbankan. Pilihan aku istirahat yang cukup meski waktu bermain jadi kurang."
Disiplin adalah kosakata nomor satu di hidup Putu. Selanjutnya, ia berpesan agar pemain mematuhi setiap instruksi pelatih, bekerja keras setiap latihan, rajin berdoa dan memberikan yang tebaik untuk orang tua.
Dengan prinsip yang ia jalani sejak kecil, Putu secara bertahap mulai mendapat tempat di Timnas Indonesia. Sepertinya gerbang menuju label pesepak bola profesional tinggal menunggu waktu asal Putu bisa Konsisten menjaga kondisi.
Sempat Menangis Gara-Gara Sepatu Bola
 Putu merupakan anak tunggal pasangan I Made Raka-Ni Nyoman Suji. Lahir dan tumbuh di Bali, Putu kecil pernah menangis berjam-jam. Ia terus meminta untuk dibelikan sepatu bola. Namun, rengekan itu tidak membuat orangtuanya bergeming.
Putu yang masih duduk dibangku SD kemudian ngambek dengan bersikap cuek. Pernah satu hari, ia tidak bertegur sapa dengan orangtuanya. Putu menyebut, alasan orangtuanya tidak membelikan sepatu bola karena di desa tempat tinggal nya tidak ada Sekolah Sepak Bola (SSB). Pada era Putu kecil, ia menjelaskan tidak ada SSB yang populer di desanya.
Keinginan Putu terpenuhi setelah 3 hari. Mungkin kenang Putu, orangtuanya tidak tega melihat anaknya terlalu lama menangis. Sepatu pertama merek Logo seharga Rp. 65.000 itu hingga kini masih disimpan orangtuanya di rumah.
Putu menyatakan, ia ingin dibelikan sepatu bola setelah melihat televisi. Mau coba rasanya main menggunakan sepatu bola. Putu pun sempat mengalami kegagalan. Dia sempat dinyatakan tidak lolos dalam seleksi menembus tim Perseden Denpasar U-14.
"Sedih sekali waktu itu. Tapi diomongin sama bapak jalan aku masih panjang," ujar Putu.
Pesan sang ayah membuat Putu lebih kuat. Ia terus melanjutkan aktivitasnya di sepak bola. Peluang itu kemudian datang ketika Putu 'dipinang' Diklat Ragunan, Jakarta. Tetapi, karena Putu anak satu-satunya, orangtua Putu sempat ragu.
Sempat terjadi pertanyaan sekaligus pertentangan. Namun, saudara-saudara Putu membantu untuk meyakinkan. Sejak masuk Ragunan, karier Putu meningkat. Kesempatan membela timnas pun datang dan berhasil ia pertahankan hingga sekarang.
"Kalau ingat perjuangan aku dulu, ya jadi semakin kuat tekad untuk menjadi pesepak bola. Aku dan kedua orangtua sudah banyak berkorban. Aku ingin lebih sukses untuk mereka dan bangsa ini"
Biodata
Nama lengkap: Putu Gede Juni Antara
Tempat, tanggal lahir: Denpasar, 7 Juni 1995
Posisi: Bek kanan/bek tengah
Tinggi: 176 cm
Berat: 68 kg
Karier:
SSB Putra Fajar, SSB Nusantara, SSB Bintang Dewata, SSB Putra Tresna Denpasar, Diklat Ragunan, Timnas U-17, Timnas U-18, Timnas U-19
Nama Orangtua: I Made Raka (ayah) - Ni Nyoman Suji (ibu)
Pendidikan:
SD III Batu Bulan, SMP Sila Chandra, SMA Dwi Jendra (sampai kelas 1), SMA Ragunan
Pemain favorit: Sergio Ramos (Real Madrid), Ngurah Nanak (Persija)
Prestasi:
Juara HKFA di Hongkong bersama Timnas Indonesia U-17, Juara HKJC 2013 di Hongkong bersama Timnas Indonesia U-18, Juara Piala AFF U-19 2013 di Indonesia bersama Timnas Indonesia U-19

Selasa, 26 Agustus 2014

Muchlis Hadi Ning Syaifulloh

"Jalan saya masih panjang. Saya harus terus menampilkan terbaik. Jika tidak, posisi saya akan digeser pemain lain."
Di klub ataupun timnas, seorang penyerang lebih sering mendapat sorotan. Posisinya yang kerap menjadi penentu kemenangan sebuah tim menjadi salah satu alasan. Hal itu pula yang dialami penyerang Timnas Indonesia U-19. Muchlis Hadi Ning Syaifulloh.
Muchlis adalah salah satu pilar saat menjuarai piala AFF U-19 dan meloloskan tim ke putaran final Piala Asia di Myanmar, Oktober 2014. Prestasi di timnas membuat nama Muchlis melambung. Boleh dibilang sejajar dengan kapten Evan Dimas Darmono atau penjaga gawang Ravi Murdianto.
Hal itu tidak pernah terbayangkan oleh Muchlis. Sejak kecil, ia hanya berusaha menyalurkan hobi bermain bola. Kelas 6 SD, Muchlis masuk PSBS (Persatuan Sepakbola Blombingsari Selection).
Blimbingsari merupakan nama sebuah desa di Kecamatan Sooko, Kabupaten mojokerto, Jawa Timur, tempat tinggal Muchlis dan orangtuanya. Keluarga Muchlis sangat sederhana. Karena keuangan terbatas, Muchlis pun tidak bisa membeli sepatu bola “MEWAH”.
Ia hanya menggunakan sepatu buatan rumahan. Desa Blimbingsari memang dikenal memiliki banyak pengrajin sepatu. Untuk model mereka mencontoh merek terkenal tetapi dengan  bahan yang berbeda. Harga jualnya pun jauh lebih murah.
Tentu dengan kualitas atau daya tahan yang tidak bisa disamakan dengan produk aslinya. Situasi tersebut sempat membuat Muchlis minder. Namun ia menjalaninya dengan ikhlas.
“Kadang memang malu, tetapi mau bagaimana lagi. Saya terus bersemangat, saya memegang prinsip pantang menyerah. Pokoknya tetap berusaha sebaik mungkin dan jalan menuju prestasi akan terbuka.”
Semangat itu seperti membuka kesempatan untuk Muchlis. Setelah memperkuat SSB GenB, SSB Sinar Mas, di usia 13 tahun ikut dalam rombongan Timnas Indonesia U-13 yang menjuarai Piala Yamaha di Vietnam. Selepas itu, Muchlis membela Persebaya u-14 dan sempat memperkuat klub Domhil Malang U-15.

Talenta Muchlis terpantau Pengcab PSSI Malang. Ia direkomendasikan bergabung dengan klub Banteng Muda U-16. Muchlis kemudian hijrah ke Pasuruan bergabung dengan Persekap hingga saat ini.
Muchlis bisa menembus timnas berkat kiprahnya di Persekap. Saat beruji coba dengan Timnas Indonesia U-17, 8 Mei 2012, Muchlis dan rekan setimnya Muhammad Fatchu Rochman dianggap spesial oleh pelatih Indra Sjafri. Sejak itu, Muchlis masuk daftar Timnas
"Saya berharap bisa terus di Timnas, kalau bisa sampai senior. Saya ingin membahagiakan orang tua. Kepengin memberangkatkan mereka pergi haji"

Biodata

Nama Lengkap: Muchlis Hadi Ning Syaifullah
Nama Panggilan: Muchlis
Tempat/Tanggal Lahir: Mojokerto, 26 Oktober 1996
Posisi: Penyerang
Ayah: Samsul Hadi
Ibu: Sulifah
Pemain Internasional Favorit: Fernando Torres (Spanyol)
Pemain Nasional Favorit: Cristian Gonzales
Klub Internasional Favorit: Chelsea, Barcelona
Prestasi:
Top skor Liga Pendidikan Jawa Timur, Juara HKJC 2013 di Hongkong bersama Timnas Indonesia U-18, Juara Piala AFF U-19 2013 di Indonesia bersama Timnas Indonesia U-19.
Cita-Cita Pribadi:
Membawa orangtua pergi haji
Cita-Cita di Timnas Indonesia U-19:
Membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia U-10 2015 di Selandia Baru