Kembang api

Jumat, 31 Oktober 2014

Kisah Evan Dimas: Sepatu Pertama Dari Jualan Sayur





Nama Evan Dimas kini amat tersohor. Sosok muda yang kalem itu sangat dikenal publik sepakbola Indonesia. Kepopuleran itu datang bersama prestasinya yang mengagumkan. Evan tak sendiri, kehebatannya di lapangan hijau tercipta berkat dukungan seluruh tim yang tergabung dalam skuat Timnas U-19. Evan Dimas dan armada Garuda Muda memang layak mendapatkan pujian. 


----------



Publik sepakbola di Tanah Air kini sudah mendapat idola baru: Evan Dimas. Kepopuleran Evan tidak diperoleh secara instan, tapi dicapai lewat proses panjang, ketekunan berlatih, pembelajaran yang terus menerus, dan kerja keras. 



Jalan terjal dan berliku rupanya memang harus dilalui Evan Dimas saat dirinya ingin mewujudkan keinginannya menjadi pemain sepakbola. Evan menyadari, orangtuanya hidup dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan. Bahkan untuk membeli sepasang sepatu sepakbola saja, ia harus bersabar menunggu orangtuanya punya uang. 



Pekerja Keras



Evan Dimas berasal dari keluarga sangat sederhana. Ayahnya, Condro Darmono bekerja sebagai petugas keamanan. Sementara sang ibu, Ana kini lebih banyak berada di rumah mengurusi rumah tangga dan karier Evan. Dulu, Ana pernah bekerja serabutan urusan rumah tangga. Mereka tinggal di Desa Ngemplak RT 3 RW 5, Kelurahan Made, Kecamatan Sambikerep, Surabaya Barat, Jawa Timur.



Sebagai anak pertama, Evan terbiasa mengurusi dan melindungi tiga adiknya. Dua adiknya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sementara si bungsu masih belum bersekolah. 



Kondisi pas-pasan keluarga Condro Darmono dan Ana tak menyurutkan semangat mereka mendidik Evan dan ketiga adiknya. Mereka selalu mendukung setiap langkah Evan untuk menggapai cita-cita putra tercintanya itu. Terutama cita-cita ingin menjadi pemain sepakbola.


Pernah Merasa Iri

Lingkungan sosial tempat Evan hidup amat heterogen. Di usia remajanya, Evan Dimas kerap mengalami godaan yang memang sulit ditolak. Sekali waktu, kadang Eva merasa iri ketika melihat teman-temannya bisa memakai sepatu baru.  

"Terkadang saya iri lihat orang-orang yang bisa membeli sepatu baru untuk anaknya. Saya hanya berpikir kapan bisa membeli sepatu seperti itu, sedangkan ibu hanya jadi pembantu dan kadang berjualan kacang keliling kampung," sambung Evan mengenang.

Kondisi yang serba terbatas itu justru membuat Evan terpacu untuk lebih bersemangat dan menjadi lebih baik. Evan mengaku, pertama kali menekuni sepakbola sejak kelas 4 SD. Ia sempat menimba ilmu di SSB Sasana Bhakti (Sakti) bersama saudara sepupunya, Feri Ariawan. Bakatnya semakin terasah, ketika bergabung dengan SSB Mitra Surabaya pada 2007, saat itu Evan masih berusia 12 tahun.



Di lapangan hijau, Evan berperan sebagai gelandang. Meski posturnya mungil, daya jelajahnya sangat tinggi. Tak hanya itu, kaki kiri dan kanannya juga 'hidup'. Evan juga dikenal sebagai gelandang yang memiliki tenaga ekstra. Semangatnya seperti tak pernah habis untuk mengejar kemenangan tim yang dibelanya. Hanya satu yang menjadi kelemahannya saat ini, yakni kontrol emosi. Sebuah hal yang lumrah dimiliki seorang pemain muda.

Sebenarnya, rengekan Evan yang ingin bermain bola sudah terjadi sejak umur tiga tahun. Bahkan waktu itu, Evan minta masuk sekolah sepakbola di Sekolah Sepakbola Sasana Bhakti Surabaya. Namun keinginan itu sulit diwujudkan karena harus punya sepatu bola.
 evan-dimas-story-131025b.jpg

Kamis, 25 September 2014

Maldini Pali

Terlihat kalem, kalu ngomong juga malu-malu, tapi sosok Maldini bisa jadi ganas banget kalau sudah di atas lapangan. Posisinya tak pernah jauh dari sisi kiri atau sisi kanan pertahanan lawan. Singkatnya, dari kedua sisi inilah Maldini selalu datang merusak areal pertahanan lawan. Pelatih Indra Sjafri memberinya tugas yang terdengar sederhana, kurang lebih bunyinya “Masuk ke pertahanan lawan di lebar lapangan, lalu kirimkan umpan.”
         Umpannya pun cukup sederhana “kirimkan bola rendah saja kepada rekan,” sepertinya terdengar mudah. Tapi, kalau sudah dipraktekkan jelas susah. Sepak bola memang seperti itu, mainnya sederhana saja kok, mempraktekkannya yang susah. Kalau mengutip dari legenda Belanda, Johan Cruyff “Sepak bola adalah permainan yang sederhana, tapi main sepak bola yang sederhana itu susah.” Seperti itulah kira-kira membayangkan tugas abg kelahiran Pangkalanbun, Kalimantan Tengah 27 Januari 1995 ini.
         Kariernya juga sederhana-sederhana saja. Dimulai dari main sepak bola di kota Mamuju, Sulawesi Barat, dimana ia dan keluarga tinggal di usia yang masih terbilang anak-anak. Maldini memberanikan diri datang ke Makassar, Sulawesi Selatan untuk ikut seleksi piala Menpora bersama PSM Makassar U-15, sebuah klub terbesar di pulau Sulawesi. “Waktu itu tahun 2009, umur saya masih 14 tahun,” ujar Maldini tentang perjalanan sepak bola pertamnya saat itu.
         Jangan mengira Maldini langsung berhasil. Sama seperti banyak kisah orang-orang sukses, misalnya Abraham Lincoln yang sempat gagal jadi pengusaha dan politisi. Sosok sederhana yang lebih memilih berdiam diri di kamar, daripada keluyuran di malam masa istirahat latihan tim ini juga sempat gagal di upaya pertamanya 2009 itu.
         Tapi Maldini kembali bersaing di level usia yang sama untuk menjadi bagian dari tim junior Juku Eja tersebut. Kali ini ia berhasil dan kemudian berkiprah di Piala Menpora. Aksi atraktifnya diatas lapangan membuatnya direkrut oleh Indonesia Football academy (IFA) yang kemudian membawa penggemar Barcelona dan Persib Bandung ini berangkat ke klub Leicester City di kota Leicester, Inggris. Tentu ini adalah bangian dari seleksi dirinya untuk menjadi bagian dari tim junior di negerinya James Bond itu.
         Gagal di Leicester City, Maldini sama sekali tak berkecil hati, apalagi tim elit Indonesia, Pelita Jaya kemudian merekrutnya dan lalu mengirimkannya bersama belasan talenta muda lainnya ke kota Montevideo, Uruguay, bergabung dengan tim Deportivo SAD, sebuah tim usia muda Indonesia yang berkompetisi di negeri juara dunia dua kali itu.
          Berkompetisi di negerinya Luis Suarez benar-benar mematangkan kemampuan dan mental pemuda yang bercita-cita bisa bermain di Barcelona ini. Baginya, disiplin adalah kata kunci untuk jadi sukses. Tak Cuma jam tidur yang cukup (sekitar jam 23.00-05.30 pagi) ia juga mengatur pola makannya dengan baik agar bisa terus mencapai bentuk dan stamina ideal seorang pesepak bola.
         Cowok kalem yang juga suka musik-musik kalem seperti Andrew Allen ini mengaku tidak terlalu suka K-Pop, tapi siapa sangka saat ditanya soal Lee Min Ho, dia malah nyerocos nggah berhenti-berhenti.  Cita-cita jangka pendeknya, sih sederhan saja. Ingin fokus membawa Indonesia ke Piala Dunia U-20 di Selandia Baru 2015 nanti “Target saya yang terbaik tahun depan di (AFC Cup U-19) Myanmar, agar bisa bawa Indonesia ke Piala Dunia,” tegas pengagum Franck Ribery dan Lionel Messi ini.
         Untuk pemain lokal, Maldini memilih Boaz Salossa. Alasannya “Boaz Salossa tuh dribble dan eksekusinya bagus, juga Firman Utina yang bener-bener jago ngebagi bola.”
         Saat ditanya apakah pernah bertemu dengan pemain bolanya, Maldini langsung menjawab “Pernah ketemu bang Boaz, tapi malu buat negur.”

         Jadi, walaupun sudah berstatus bintang, Maldini masih malu-malu saat ketemu idolanya. Coba bayangkan bagaimana sikap Maldini bila bertemu dengan Lionel Messi atau Franck Ribery, ya?
Biodata
Nama lengkap: Maldini Pali
Nama panggilan: Maldini
Tempat, tanggal lahir: Pangkalanbun, Kalimantan Tengah, 25 Januari 1995
Posisi: Penyerang sayap
Ayah: Paulus Pangloli Pali
Ibu: Ester Tambing
Pemain internaisonal favorit: Frank Ribery (Perancis), Lionel Messi (Argentina)
Pemain nasional favorit: Boaz Salossa
Klub internasional favorit: Barcelona (Spanyol)

Kamis, 11 September 2014

Ravi Murdianto

“Seperti pesan orangtua, jangan pernah tinggalkan shalat 5 waktu, rendah hati pada siapa pun meski prestasi sedang memuncak.”
Cibiran mengiringi langkah penjaga gawang Ravi Murdianto saat meniti karier. Sebelum terkenal sebagai orang nomor satu dibawah mistar timnas Indonesia U-19, Ravi kerap disepelekan. Orang-orang melihatnya sebelah mata.
            Situasi itu tidak membuat Ravi putus asa, ia terus bekerja keras untuk menjawab keraguan. Kerja keras itu kini tengah menapaki jalur menuju kesuksesan. Ravi populer dan mempersembahkan torehan prestasi bersama timnas.
            Ravi berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya, Hery Supriyanto sempat bekerja sebagai pemungut botol dari kampung ke kampung. Sang ibu, Murminah, hanya berjualan nasi di sebuah warung.
            Sejak kelas dua Sekolah Dasar (SD), Ravi mulai menyukai sepak bola. Posisi awalnya gelandang atau penyerang. Menginjak kelas empat SD, ia hijrah ke sektor penjaga gawang, dan sejak kelas enam enam SD Ravi pindah ke SSB Tugumuda Semarang dengan harapan agar mendapat pelatihan yang lebih baik.
            Dengan postur tubuh yang tinggi besar, adaptasi di posisi baru bukan hal sulit. Namun, ia menghadapi beragam kendala, salah satunya adalah jarak rumahnya ke SSB tempat ia berlatih di Semarang, Jawa Tengah, lumayan jauh.
            Kadang ia jalan kaki atau diantar sang ayah. Ketika diantar, Ravi harus duduk diatas jok sepeda motor yang sudah penuh sesak dengan karung berisi botol-botol. Kata-kata dari orang kampung, ‘itu lho kiper yang diantar bapaknya naik motor diatas karung’ sering ia dengar.
            Kelas dua SMP, Ravi lolos seleksi Pusat Pendidikan dan Pelatih Pelajar (PPLP) Jawa Tengah. PPLP ini sering disebut Diklat Salatiga. Dua tahun kemudian, berkat rekomendasi salah seorang seniornya dan kemampuan bermain, Ravi ditarik pindah ke Diklat Ragunan di Jakarta.
            Gerbang memperkuat timnas Indonesia pun seolah terbuka. Sejak Indra Sjafri menangani timnas Indonesia U-17, timnas Indonesia U-18, hingga sekarang Ravi menjadi pilihan utama.
            Menurut Ravi, apa yang ia raih sejauh ini berkat dukungan orangtua dan kehendak Tuhan. Ravi termotivasi untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
            “Orang tua yang memperjuangkan saya. Selalu mendukung saya. Bahkan pernah bela-bela jual tanah untuk biaya masuk SSB atau keperluan lainnya.”
Fokus di Timnas
Saat ini, Ravi berkonsentrasi di pelatnas timnas Indonesia U-19. Ravi ingin meloloskan Indonesia ke Piala Dunia U-20 via jalur Piala Asia U-19 di Myanmar tahun depan. Soal klub, Ravi tidak ambil pusing.
            Ravi memiliki pesan untuk teman-teman yang sedang giat meniti karier sebagai pesepak bola, “Terus bekerja keras. Berlaku santun, sederhana, menghormati orang tua, menghormati orang yang lebih tua dan taat beribadah.”
Biodata
Nama lengkap: Ravi Murdianto
Nama panggilan: Ravi
Tempat, tanggal lahir: Grobogan, Jawa Tengah. 8 Januari 1995
Posisi: Penjaga gawang
Ayah: Hery Supriyanto
Ibu: Murminah
Pemain Internasional Favorit: Gianluigi Buffon (Italia)
Pemain nasional favorit: Fery Rotinsulu
Cita-Cita pribadi:
Membahagiakan orang tua lewat sepak bola
Cita-cita di timnas Indonesia U-19:
Membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia U-20 2015 di Selandia Baru
Prestasi:

Juara HKFA 2012 di Hongkong bersama timnas Indonesia U-17, Juara HKJC 2013 di Hongkong bersama timnas Indonesia U-18, Juara Piala AFF U-19 2013 di Indonesia bersama timnas Indonesia U-19

Rabu, 27 Agustus 2014

Putu Gede Juni Antara

"Disiplin, patuh kepada pelatih, kerja keras, dan rajin berdoa"
Berdasarkan stastik di Piala AFF U-19 dan Pra Piala Asia U-19, nama Putu Gede Juni Antara berada diurutan teratas. Putu merupakan pemain yang paling sering diturunkan dengan total 930 menit, disusul kapten tim Evan Dimas Darmono (929 menit), penjaga gawang Ravi Murdianto (879 menit), penyerang sayap kiri Ilham Udin Armaiyn (845 menit), dan bek tengah Hanzamu Yama Pranata (840 menit).
Artinya, Putu memiliki fisik prima. Ia jarang digantikan kecuali cedera. Lalu apa rahasianya? Tidak sulit, Putu menyebut istirahatlah yang cukup. Disamping itu Putu memiliki tekad kuat untuk menjadi pesepak bola profesional.
Soal jam malam, ia membatasi dirinya sendiri. Paling malam, Putu tidur pukul 23.00 WIB. Itu pun hanya hari Sabtu atau malam Minggu. Bagi Putu, istirahat tidak kalah penting selain latihan ruti. Hal ini cukup sulit, mengingat anak lain seusianya pasti sedang gemar-gemarnya menghabiskan waktu saat akhir pekan Tapi ia memiliki kesungguhan hati untuk sukses.
"Selalu ingetin diri sendiri. Kalau mau sukses harus ada yang dikorbankan. Pilihan aku istirahat yang cukup meski waktu bermain jadi kurang."
Disiplin adalah kosakata nomor satu di hidup Putu. Selanjutnya, ia berpesan agar pemain mematuhi setiap instruksi pelatih, bekerja keras setiap latihan, rajin berdoa dan memberikan yang tebaik untuk orang tua.
Dengan prinsip yang ia jalani sejak kecil, Putu secara bertahap mulai mendapat tempat di Timnas Indonesia. Sepertinya gerbang menuju label pesepak bola profesional tinggal menunggu waktu asal Putu bisa Konsisten menjaga kondisi.
Sempat Menangis Gara-Gara Sepatu Bola
 Putu merupakan anak tunggal pasangan I Made Raka-Ni Nyoman Suji. Lahir dan tumbuh di Bali, Putu kecil pernah menangis berjam-jam. Ia terus meminta untuk dibelikan sepatu bola. Namun, rengekan itu tidak membuat orangtuanya bergeming.
Putu yang masih duduk dibangku SD kemudian ngambek dengan bersikap cuek. Pernah satu hari, ia tidak bertegur sapa dengan orangtuanya. Putu menyebut, alasan orangtuanya tidak membelikan sepatu bola karena di desa tempat tinggal nya tidak ada Sekolah Sepak Bola (SSB). Pada era Putu kecil, ia menjelaskan tidak ada SSB yang populer di desanya.
Keinginan Putu terpenuhi setelah 3 hari. Mungkin kenang Putu, orangtuanya tidak tega melihat anaknya terlalu lama menangis. Sepatu pertama merek Logo seharga Rp. 65.000 itu hingga kini masih disimpan orangtuanya di rumah.
Putu menyatakan, ia ingin dibelikan sepatu bola setelah melihat televisi. Mau coba rasanya main menggunakan sepatu bola. Putu pun sempat mengalami kegagalan. Dia sempat dinyatakan tidak lolos dalam seleksi menembus tim Perseden Denpasar U-14.
"Sedih sekali waktu itu. Tapi diomongin sama bapak jalan aku masih panjang," ujar Putu.
Pesan sang ayah membuat Putu lebih kuat. Ia terus melanjutkan aktivitasnya di sepak bola. Peluang itu kemudian datang ketika Putu 'dipinang' Diklat Ragunan, Jakarta. Tetapi, karena Putu anak satu-satunya, orangtua Putu sempat ragu.
Sempat terjadi pertanyaan sekaligus pertentangan. Namun, saudara-saudara Putu membantu untuk meyakinkan. Sejak masuk Ragunan, karier Putu meningkat. Kesempatan membela timnas pun datang dan berhasil ia pertahankan hingga sekarang.
"Kalau ingat perjuangan aku dulu, ya jadi semakin kuat tekad untuk menjadi pesepak bola. Aku dan kedua orangtua sudah banyak berkorban. Aku ingin lebih sukses untuk mereka dan bangsa ini"
Biodata
Nama lengkap: Putu Gede Juni Antara
Tempat, tanggal lahir: Denpasar, 7 Juni 1995
Posisi: Bek kanan/bek tengah
Tinggi: 176 cm
Berat: 68 kg
Karier:
SSB Putra Fajar, SSB Nusantara, SSB Bintang Dewata, SSB Putra Tresna Denpasar, Diklat Ragunan, Timnas U-17, Timnas U-18, Timnas U-19
Nama Orangtua: I Made Raka (ayah) - Ni Nyoman Suji (ibu)
Pendidikan:
SD III Batu Bulan, SMP Sila Chandra, SMA Dwi Jendra (sampai kelas 1), SMA Ragunan
Pemain favorit: Sergio Ramos (Real Madrid), Ngurah Nanak (Persija)
Prestasi:
Juara HKFA di Hongkong bersama Timnas Indonesia U-17, Juara HKJC 2013 di Hongkong bersama Timnas Indonesia U-18, Juara Piala AFF U-19 2013 di Indonesia bersama Timnas Indonesia U-19

Selasa, 26 Agustus 2014

Muchlis Hadi Ning Syaifulloh

"Jalan saya masih panjang. Saya harus terus menampilkan terbaik. Jika tidak, posisi saya akan digeser pemain lain."
Di klub ataupun timnas, seorang penyerang lebih sering mendapat sorotan. Posisinya yang kerap menjadi penentu kemenangan sebuah tim menjadi salah satu alasan. Hal itu pula yang dialami penyerang Timnas Indonesia U-19. Muchlis Hadi Ning Syaifulloh.
Muchlis adalah salah satu pilar saat menjuarai piala AFF U-19 dan meloloskan tim ke putaran final Piala Asia di Myanmar, Oktober 2014. Prestasi di timnas membuat nama Muchlis melambung. Boleh dibilang sejajar dengan kapten Evan Dimas Darmono atau penjaga gawang Ravi Murdianto.
Hal itu tidak pernah terbayangkan oleh Muchlis. Sejak kecil, ia hanya berusaha menyalurkan hobi bermain bola. Kelas 6 SD, Muchlis masuk PSBS (Persatuan Sepakbola Blombingsari Selection).
Blimbingsari merupakan nama sebuah desa di Kecamatan Sooko, Kabupaten mojokerto, Jawa Timur, tempat tinggal Muchlis dan orangtuanya. Keluarga Muchlis sangat sederhana. Karena keuangan terbatas, Muchlis pun tidak bisa membeli sepatu bola “MEWAH”.
Ia hanya menggunakan sepatu buatan rumahan. Desa Blimbingsari memang dikenal memiliki banyak pengrajin sepatu. Untuk model mereka mencontoh merek terkenal tetapi dengan  bahan yang berbeda. Harga jualnya pun jauh lebih murah.
Tentu dengan kualitas atau daya tahan yang tidak bisa disamakan dengan produk aslinya. Situasi tersebut sempat membuat Muchlis minder. Namun ia menjalaninya dengan ikhlas.
“Kadang memang malu, tetapi mau bagaimana lagi. Saya terus bersemangat, saya memegang prinsip pantang menyerah. Pokoknya tetap berusaha sebaik mungkin dan jalan menuju prestasi akan terbuka.”
Semangat itu seperti membuka kesempatan untuk Muchlis. Setelah memperkuat SSB GenB, SSB Sinar Mas, di usia 13 tahun ikut dalam rombongan Timnas Indonesia U-13 yang menjuarai Piala Yamaha di Vietnam. Selepas itu, Muchlis membela Persebaya u-14 dan sempat memperkuat klub Domhil Malang U-15.

Talenta Muchlis terpantau Pengcab PSSI Malang. Ia direkomendasikan bergabung dengan klub Banteng Muda U-16. Muchlis kemudian hijrah ke Pasuruan bergabung dengan Persekap hingga saat ini.
Muchlis bisa menembus timnas berkat kiprahnya di Persekap. Saat beruji coba dengan Timnas Indonesia U-17, 8 Mei 2012, Muchlis dan rekan setimnya Muhammad Fatchu Rochman dianggap spesial oleh pelatih Indra Sjafri. Sejak itu, Muchlis masuk daftar Timnas
"Saya berharap bisa terus di Timnas, kalau bisa sampai senior. Saya ingin membahagiakan orang tua. Kepengin memberangkatkan mereka pergi haji"

Biodata

Nama Lengkap: Muchlis Hadi Ning Syaifullah
Nama Panggilan: Muchlis
Tempat/Tanggal Lahir: Mojokerto, 26 Oktober 1996
Posisi: Penyerang
Ayah: Samsul Hadi
Ibu: Sulifah
Pemain Internasional Favorit: Fernando Torres (Spanyol)
Pemain Nasional Favorit: Cristian Gonzales
Klub Internasional Favorit: Chelsea, Barcelona
Prestasi:
Top skor Liga Pendidikan Jawa Timur, Juara HKJC 2013 di Hongkong bersama Timnas Indonesia U-18, Juara Piala AFF U-19 2013 di Indonesia bersama Timnas Indonesia U-19.
Cita-Cita Pribadi:
Membawa orangtua pergi haji
Cita-Cita di Timnas Indonesia U-19:
Membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia U-10 2015 di Selandia Baru