“Seperti pesan orangtua, jangan
pernah tinggalkan shalat 5 waktu, rendah hati pada siapa pun meski prestasi
sedang memuncak.”
Cibiran mengiringi
langkah penjaga gawang Ravi Murdianto saat meniti karier. Sebelum terkenal
sebagai orang nomor satu dibawah mistar timnas Indonesia U-19, Ravi kerap
disepelekan. Orang-orang melihatnya sebelah mata.
Situasi itu tidak membuat Ravi putus
asa, ia terus bekerja keras untuk menjawab keraguan. Kerja keras itu kini
tengah menapaki jalur menuju kesuksesan. Ravi populer dan mempersembahkan
torehan prestasi bersama timnas.
Ravi berasal dari keluarga sederhana.
Ayahnya, Hery Supriyanto sempat bekerja sebagai pemungut botol dari kampung ke
kampung. Sang ibu, Murminah, hanya berjualan nasi di sebuah warung.
Sejak kelas dua Sekolah Dasar (SD),
Ravi mulai menyukai sepak bola. Posisi awalnya gelandang atau penyerang. Menginjak
kelas empat SD, ia hijrah ke sektor penjaga gawang, dan sejak kelas enam enam
SD Ravi pindah ke SSB Tugumuda Semarang dengan harapan agar mendapat pelatihan
yang lebih baik.
Dengan postur tubuh yang tinggi
besar, adaptasi di posisi baru bukan hal sulit. Namun, ia menghadapi beragam
kendala, salah satunya adalah jarak rumahnya ke SSB tempat ia berlatih di
Semarang, Jawa Tengah, lumayan jauh.
Kadang ia jalan kaki atau diantar
sang ayah. Ketika diantar, Ravi harus duduk diatas jok sepeda motor yang sudah
penuh sesak dengan karung berisi botol-botol. Kata-kata dari orang kampung, ‘itu
lho kiper yang diantar bapaknya naik motor diatas karung’ sering ia dengar.
Kelas dua SMP, Ravi lolos seleksi
Pusat Pendidikan dan Pelatih Pelajar (PPLP) Jawa Tengah. PPLP ini sering
disebut Diklat Salatiga. Dua tahun kemudian, berkat rekomendasi salah seorang
seniornya dan kemampuan bermain, Ravi ditarik pindah ke Diklat Ragunan di
Jakarta.
Gerbang memperkuat timnas Indonesia
pun seolah terbuka. Sejak Indra Sjafri menangani timnas Indonesia U-17, timnas
Indonesia U-18, hingga sekarang Ravi menjadi pilihan utama.
Menurut Ravi, apa yang ia raih
sejauh ini berkat dukungan orangtua dan kehendak Tuhan. Ravi termotivasi untuk
membahagiakan kedua orangtuanya.
“Orang
tua yang memperjuangkan saya. Selalu mendukung saya. Bahkan pernah bela-bela
jual tanah untuk biaya masuk SSB atau keperluan lainnya.”
Fokus di Timnas
Saat ini, Ravi
berkonsentrasi di pelatnas timnas Indonesia U-19. Ravi ingin meloloskan
Indonesia ke Piala Dunia U-20 via jalur Piala Asia U-19 di Myanmar tahun depan.
Soal klub, Ravi tidak ambil pusing.
Ravi memiliki pesan untuk
teman-teman yang sedang giat meniti karier sebagai pesepak bola, “Terus bekerja keras. Berlaku santun,
sederhana, menghormati orang tua, menghormati orang yang lebih tua dan taat
beribadah.”
Biodata
Nama lengkap: Ravi Murdianto
Nama panggilan: Ravi
Tempat, tanggal lahir: Grobogan, Jawa Tengah. 8 Januari 1995
Posisi: Penjaga gawang
Ayah: Hery Supriyanto
Ibu: Murminah
Pemain Internasional Favorit: Gianluigi Buffon (Italia)
Pemain nasional favorit: Fery Rotinsulu
Cita-Cita pribadi:
Membahagiakan
orang tua lewat sepak bola
Cita-cita di timnas Indonesia U-19:
Membawa Indonesia
lolos ke Piala Dunia U-20 2015 di Selandia Baru
Prestasi:
Juara HKFA 2012 di
Hongkong bersama timnas Indonesia U-17, Juara HKJC 2013 di Hongkong bersama
timnas Indonesia U-18, Juara Piala AFF U-19 2013 di Indonesia bersama timnas
Indonesia U-19
Tidak ada komentar:
Posting Komentar