Kembang api

Kamis, 11 September 2014

Ravi Murdianto

“Seperti pesan orangtua, jangan pernah tinggalkan shalat 5 waktu, rendah hati pada siapa pun meski prestasi sedang memuncak.”
Cibiran mengiringi langkah penjaga gawang Ravi Murdianto saat meniti karier. Sebelum terkenal sebagai orang nomor satu dibawah mistar timnas Indonesia U-19, Ravi kerap disepelekan. Orang-orang melihatnya sebelah mata.
            Situasi itu tidak membuat Ravi putus asa, ia terus bekerja keras untuk menjawab keraguan. Kerja keras itu kini tengah menapaki jalur menuju kesuksesan. Ravi populer dan mempersembahkan torehan prestasi bersama timnas.
            Ravi berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya, Hery Supriyanto sempat bekerja sebagai pemungut botol dari kampung ke kampung. Sang ibu, Murminah, hanya berjualan nasi di sebuah warung.
            Sejak kelas dua Sekolah Dasar (SD), Ravi mulai menyukai sepak bola. Posisi awalnya gelandang atau penyerang. Menginjak kelas empat SD, ia hijrah ke sektor penjaga gawang, dan sejak kelas enam enam SD Ravi pindah ke SSB Tugumuda Semarang dengan harapan agar mendapat pelatihan yang lebih baik.
            Dengan postur tubuh yang tinggi besar, adaptasi di posisi baru bukan hal sulit. Namun, ia menghadapi beragam kendala, salah satunya adalah jarak rumahnya ke SSB tempat ia berlatih di Semarang, Jawa Tengah, lumayan jauh.
            Kadang ia jalan kaki atau diantar sang ayah. Ketika diantar, Ravi harus duduk diatas jok sepeda motor yang sudah penuh sesak dengan karung berisi botol-botol. Kata-kata dari orang kampung, ‘itu lho kiper yang diantar bapaknya naik motor diatas karung’ sering ia dengar.
            Kelas dua SMP, Ravi lolos seleksi Pusat Pendidikan dan Pelatih Pelajar (PPLP) Jawa Tengah. PPLP ini sering disebut Diklat Salatiga. Dua tahun kemudian, berkat rekomendasi salah seorang seniornya dan kemampuan bermain, Ravi ditarik pindah ke Diklat Ragunan di Jakarta.
            Gerbang memperkuat timnas Indonesia pun seolah terbuka. Sejak Indra Sjafri menangani timnas Indonesia U-17, timnas Indonesia U-18, hingga sekarang Ravi menjadi pilihan utama.
            Menurut Ravi, apa yang ia raih sejauh ini berkat dukungan orangtua dan kehendak Tuhan. Ravi termotivasi untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
            “Orang tua yang memperjuangkan saya. Selalu mendukung saya. Bahkan pernah bela-bela jual tanah untuk biaya masuk SSB atau keperluan lainnya.”
Fokus di Timnas
Saat ini, Ravi berkonsentrasi di pelatnas timnas Indonesia U-19. Ravi ingin meloloskan Indonesia ke Piala Dunia U-20 via jalur Piala Asia U-19 di Myanmar tahun depan. Soal klub, Ravi tidak ambil pusing.
            Ravi memiliki pesan untuk teman-teman yang sedang giat meniti karier sebagai pesepak bola, “Terus bekerja keras. Berlaku santun, sederhana, menghormati orang tua, menghormati orang yang lebih tua dan taat beribadah.”
Biodata
Nama lengkap: Ravi Murdianto
Nama panggilan: Ravi
Tempat, tanggal lahir: Grobogan, Jawa Tengah. 8 Januari 1995
Posisi: Penjaga gawang
Ayah: Hery Supriyanto
Ibu: Murminah
Pemain Internasional Favorit: Gianluigi Buffon (Italia)
Pemain nasional favorit: Fery Rotinsulu
Cita-Cita pribadi:
Membahagiakan orang tua lewat sepak bola
Cita-cita di timnas Indonesia U-19:
Membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia U-20 2015 di Selandia Baru
Prestasi:

Juara HKFA 2012 di Hongkong bersama timnas Indonesia U-17, Juara HKJC 2013 di Hongkong bersama timnas Indonesia U-18, Juara Piala AFF U-19 2013 di Indonesia bersama timnas Indonesia U-19

Tidak ada komentar:

Posting Komentar