Kembang api

Kamis, 25 September 2014

Maldini Pali

Terlihat kalem, kalu ngomong juga malu-malu, tapi sosok Maldini bisa jadi ganas banget kalau sudah di atas lapangan. Posisinya tak pernah jauh dari sisi kiri atau sisi kanan pertahanan lawan. Singkatnya, dari kedua sisi inilah Maldini selalu datang merusak areal pertahanan lawan. Pelatih Indra Sjafri memberinya tugas yang terdengar sederhana, kurang lebih bunyinya “Masuk ke pertahanan lawan di lebar lapangan, lalu kirimkan umpan.”
         Umpannya pun cukup sederhana “kirimkan bola rendah saja kepada rekan,” sepertinya terdengar mudah. Tapi, kalau sudah dipraktekkan jelas susah. Sepak bola memang seperti itu, mainnya sederhana saja kok, mempraktekkannya yang susah. Kalau mengutip dari legenda Belanda, Johan Cruyff “Sepak bola adalah permainan yang sederhana, tapi main sepak bola yang sederhana itu susah.” Seperti itulah kira-kira membayangkan tugas abg kelahiran Pangkalanbun, Kalimantan Tengah 27 Januari 1995 ini.
         Kariernya juga sederhana-sederhana saja. Dimulai dari main sepak bola di kota Mamuju, Sulawesi Barat, dimana ia dan keluarga tinggal di usia yang masih terbilang anak-anak. Maldini memberanikan diri datang ke Makassar, Sulawesi Selatan untuk ikut seleksi piala Menpora bersama PSM Makassar U-15, sebuah klub terbesar di pulau Sulawesi. “Waktu itu tahun 2009, umur saya masih 14 tahun,” ujar Maldini tentang perjalanan sepak bola pertamnya saat itu.
         Jangan mengira Maldini langsung berhasil. Sama seperti banyak kisah orang-orang sukses, misalnya Abraham Lincoln yang sempat gagal jadi pengusaha dan politisi. Sosok sederhana yang lebih memilih berdiam diri di kamar, daripada keluyuran di malam masa istirahat latihan tim ini juga sempat gagal di upaya pertamanya 2009 itu.
         Tapi Maldini kembali bersaing di level usia yang sama untuk menjadi bagian dari tim junior Juku Eja tersebut. Kali ini ia berhasil dan kemudian berkiprah di Piala Menpora. Aksi atraktifnya diatas lapangan membuatnya direkrut oleh Indonesia Football academy (IFA) yang kemudian membawa penggemar Barcelona dan Persib Bandung ini berangkat ke klub Leicester City di kota Leicester, Inggris. Tentu ini adalah bangian dari seleksi dirinya untuk menjadi bagian dari tim junior di negerinya James Bond itu.
         Gagal di Leicester City, Maldini sama sekali tak berkecil hati, apalagi tim elit Indonesia, Pelita Jaya kemudian merekrutnya dan lalu mengirimkannya bersama belasan talenta muda lainnya ke kota Montevideo, Uruguay, bergabung dengan tim Deportivo SAD, sebuah tim usia muda Indonesia yang berkompetisi di negeri juara dunia dua kali itu.
          Berkompetisi di negerinya Luis Suarez benar-benar mematangkan kemampuan dan mental pemuda yang bercita-cita bisa bermain di Barcelona ini. Baginya, disiplin adalah kata kunci untuk jadi sukses. Tak Cuma jam tidur yang cukup (sekitar jam 23.00-05.30 pagi) ia juga mengatur pola makannya dengan baik agar bisa terus mencapai bentuk dan stamina ideal seorang pesepak bola.
         Cowok kalem yang juga suka musik-musik kalem seperti Andrew Allen ini mengaku tidak terlalu suka K-Pop, tapi siapa sangka saat ditanya soal Lee Min Ho, dia malah nyerocos nggah berhenti-berhenti.  Cita-cita jangka pendeknya, sih sederhan saja. Ingin fokus membawa Indonesia ke Piala Dunia U-20 di Selandia Baru 2015 nanti “Target saya yang terbaik tahun depan di (AFC Cup U-19) Myanmar, agar bisa bawa Indonesia ke Piala Dunia,” tegas pengagum Franck Ribery dan Lionel Messi ini.
         Untuk pemain lokal, Maldini memilih Boaz Salossa. Alasannya “Boaz Salossa tuh dribble dan eksekusinya bagus, juga Firman Utina yang bener-bener jago ngebagi bola.”
         Saat ditanya apakah pernah bertemu dengan pemain bolanya, Maldini langsung menjawab “Pernah ketemu bang Boaz, tapi malu buat negur.”

         Jadi, walaupun sudah berstatus bintang, Maldini masih malu-malu saat ketemu idolanya. Coba bayangkan bagaimana sikap Maldini bila bertemu dengan Lionel Messi atau Franck Ribery, ya?
Biodata
Nama lengkap: Maldini Pali
Nama panggilan: Maldini
Tempat, tanggal lahir: Pangkalanbun, Kalimantan Tengah, 25 Januari 1995
Posisi: Penyerang sayap
Ayah: Paulus Pangloli Pali
Ibu: Ester Tambing
Pemain internaisonal favorit: Frank Ribery (Perancis), Lionel Messi (Argentina)
Pemain nasional favorit: Boaz Salossa
Klub internasional favorit: Barcelona (Spanyol)

Kamis, 11 September 2014

Ravi Murdianto

“Seperti pesan orangtua, jangan pernah tinggalkan shalat 5 waktu, rendah hati pada siapa pun meski prestasi sedang memuncak.”
Cibiran mengiringi langkah penjaga gawang Ravi Murdianto saat meniti karier. Sebelum terkenal sebagai orang nomor satu dibawah mistar timnas Indonesia U-19, Ravi kerap disepelekan. Orang-orang melihatnya sebelah mata.
            Situasi itu tidak membuat Ravi putus asa, ia terus bekerja keras untuk menjawab keraguan. Kerja keras itu kini tengah menapaki jalur menuju kesuksesan. Ravi populer dan mempersembahkan torehan prestasi bersama timnas.
            Ravi berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya, Hery Supriyanto sempat bekerja sebagai pemungut botol dari kampung ke kampung. Sang ibu, Murminah, hanya berjualan nasi di sebuah warung.
            Sejak kelas dua Sekolah Dasar (SD), Ravi mulai menyukai sepak bola. Posisi awalnya gelandang atau penyerang. Menginjak kelas empat SD, ia hijrah ke sektor penjaga gawang, dan sejak kelas enam enam SD Ravi pindah ke SSB Tugumuda Semarang dengan harapan agar mendapat pelatihan yang lebih baik.
            Dengan postur tubuh yang tinggi besar, adaptasi di posisi baru bukan hal sulit. Namun, ia menghadapi beragam kendala, salah satunya adalah jarak rumahnya ke SSB tempat ia berlatih di Semarang, Jawa Tengah, lumayan jauh.
            Kadang ia jalan kaki atau diantar sang ayah. Ketika diantar, Ravi harus duduk diatas jok sepeda motor yang sudah penuh sesak dengan karung berisi botol-botol. Kata-kata dari orang kampung, ‘itu lho kiper yang diantar bapaknya naik motor diatas karung’ sering ia dengar.
            Kelas dua SMP, Ravi lolos seleksi Pusat Pendidikan dan Pelatih Pelajar (PPLP) Jawa Tengah. PPLP ini sering disebut Diklat Salatiga. Dua tahun kemudian, berkat rekomendasi salah seorang seniornya dan kemampuan bermain, Ravi ditarik pindah ke Diklat Ragunan di Jakarta.
            Gerbang memperkuat timnas Indonesia pun seolah terbuka. Sejak Indra Sjafri menangani timnas Indonesia U-17, timnas Indonesia U-18, hingga sekarang Ravi menjadi pilihan utama.
            Menurut Ravi, apa yang ia raih sejauh ini berkat dukungan orangtua dan kehendak Tuhan. Ravi termotivasi untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
            “Orang tua yang memperjuangkan saya. Selalu mendukung saya. Bahkan pernah bela-bela jual tanah untuk biaya masuk SSB atau keperluan lainnya.”
Fokus di Timnas
Saat ini, Ravi berkonsentrasi di pelatnas timnas Indonesia U-19. Ravi ingin meloloskan Indonesia ke Piala Dunia U-20 via jalur Piala Asia U-19 di Myanmar tahun depan. Soal klub, Ravi tidak ambil pusing.
            Ravi memiliki pesan untuk teman-teman yang sedang giat meniti karier sebagai pesepak bola, “Terus bekerja keras. Berlaku santun, sederhana, menghormati orang tua, menghormati orang yang lebih tua dan taat beribadah.”
Biodata
Nama lengkap: Ravi Murdianto
Nama panggilan: Ravi
Tempat, tanggal lahir: Grobogan, Jawa Tengah. 8 Januari 1995
Posisi: Penjaga gawang
Ayah: Hery Supriyanto
Ibu: Murminah
Pemain Internasional Favorit: Gianluigi Buffon (Italia)
Pemain nasional favorit: Fery Rotinsulu
Cita-Cita pribadi:
Membahagiakan orang tua lewat sepak bola
Cita-cita di timnas Indonesia U-19:
Membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia U-20 2015 di Selandia Baru
Prestasi:

Juara HKFA 2012 di Hongkong bersama timnas Indonesia U-17, Juara HKJC 2013 di Hongkong bersama timnas Indonesia U-18, Juara Piala AFF U-19 2013 di Indonesia bersama timnas Indonesia U-19